Will You Be Okay?



Rabu, 13 April 2022


Kamu pernah mendengar — entah dari televisi atau buku yang kamu baca — bahwa ketika hidup seseorang akan berakhir, maka orang tersebut bisa merasakannya. Nah, kamu merasakannya malam ini. 

Tiba-tiba saja perasaan itu mendatangi saat kamu terbangun di tengah malam dan memandang ke langit-langit kamar rumah sakit yang remang-remang. Matamu memandangi siluet lampu yang tengah padam dan kamu seketika berpikir, "Tubuhku sebentar lagi akan padam juga seperti lampu itu, tapi untuk selamanya." Ada pemahaman yang aneh merasuk ke dalam hatimu, disertai dengan penerimaan. Apabila sebelumnya kamu selalu merasa takut membayangkan hidupmu harus berakhir, malam itu, kamu sama sekali tidak merasakannya. Kamu merasa begitu tenang. Kamu begitu damai.

Meski begitu, kamu memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh, "Tuhan, berikan aku satu hari lagi saja."


⋇⋆✦⋆⋇


Kamis, 14 April 2022


"Happy 1st debut anniversary, JaySeong!"

Sejak waktu menunjukkan tanggal 14 datang di tengah malam, ponselmu tidak berhenti berbunyi. Ucapan selamat kamu terima bertubi-tubi dari pesan pribadi, grup chat, dan juga akun-akun media sosialmu. Beberapa yang lebih dekat denganmu bahkan menyempatkan video call hanya untuk melihatmu tersenyum. Mereka juga tak lupa untuk menyemangatimu yang sedang berjuang melawan kanker dalam darahmu. Mereka semua menyuarakan keinginan mereka melihatmu kembali menjadi Kwon Eunjae yang sehat, yang membuatmu sedikit merasakan getir dalam hati. Kamu meminta mereka yang spesial di hatimu untuk datang menjenguk jika jadwal mengizinkan.

Tampaknya, Tuhan mendengar pintamu semalam, karena hari ini kamu merasa begitu sehat dan penuh semangat. Perawat yang setiap hari memeriksa perkembanganmu pun berkata hari ini kamu terlihat ceria. Wajahmu tidak sepucat biasanya. Kamu mengiyakan karena memang lelah pun tidak kamu rasakan hari ini. Bersama Yiseong, kamu mem-posting foto di media sosial untuk merayakan satu tahun debut JaySeong bersama para penggemar. Kamu merasa senang. Kamu bangga bisa bertahan sampai sejauh ini.

Kemudian, satu per satu temanmu datang. Kamu sangat bahagia bertemu mereka. Setelah mereka pulang, kamu menghabiskan waktu mengobrol dengan keluargamu. Ayahmu pun datang dari London, meninggalkan pekerjaannya di sana untukmu. Sudah berapa lama sejak keluargamu berkumpul secara utuh seperti itu? Rasanya sudah lama sekali. Sementara kamu mengobrol dengan mereka, Yiseong duduk di sampingmu, menjadi bagian dalam keluargamu.

Tak lama kemudian, mereka pun pulang agar kamu bisa beristirahat. Hanya Yiseong yang tetap tinggal untuk menemanimu. Seperti biasa, Yiseong akan berbaring di sampingmu, lengannya akan merengkuhmu dalam pelukannya yang hangat. Dia selalu membuatmu merasa aman dan dicintai. Kamu menyandarkan kepalamu di ceruk lehernya, sedikit mendongak agar bisa menatap wajahnya yang bagimu selalu menjadi yang terindah.

Entah bagaimana, kamu merasa Yiseong tahu.

Dari caranya memelukmu, dari caranya menciumi keningmu ... dari caranya menatapmu.


Dia tahu.



Beberapa waktu terlewati tanpa kata-kata. Kalian hanya saling menatap, membelai rambut dan wajah, berciuman, dan bertatapan lagi. Matamu berkaca-kaca mengingat setelah ini dia akan harus menjalani hari tanpa dirimu. Memahami seperti apa Yiseong, kamu tahu hari-hari tanpamu takkan mudah untuknya. Hal itu satu-satunya yang membuatmu merasa berat hati.

Melihat Hwang Yiseong tampak sakit akibat kelelahan karena menjagamu selama di rumah sakit sambil tetap bekerja membuatmu teramat sedih. Kamu tahu beberapa malam terakhir ini Yiseong tidak tidur karena mengkhawatirkan kondisimu yang semakin menurun. Kemoterapi kali ini tidak memberikan perkembangan yang diinginkan dokter dan malah membuatmu semakin lemah. Kamu tahu itu. Kamu bisa merasakannya. Hanya saja kamu tidak mengira Yiseong juga menyadarinya. Hatimu rasanya sangat hancur.

"Jagiya ..."

Kamu memanggilnya. Suaramu begitu parau.

"Apakah bersamaku selama ini membuatmu bahagia?"

Kamu tahu jawabannya, tapi kamu tetap bertanya.

Dia, seperti dugaanmu, mengangguk.

"Nanti ..."

Kamu terdiam, tidak tahu bagaimana harus mengutarakan pertanyaan itu kepadanya. Alih-alih kata, air matamu yang justru mengalir dari sudut mata.

"Nanti ... kalau aku tak ada ...," ujarmu akhirnya setelah menarik napas dalam-dalam, "kamu bagaimana?"


⋇⋆✦⋆⋇


Jumat, 15 April 2022


"Will you be okay ... without me?"

Dia tak menjawab, hanya memelukmu lebih erat. Dia menciumi seluruh wajahmu, lalu ke bibirmu. Ciuman kalian terasa asin karena air mata kalian berdua tak hentinya mengalir. Dia tak perlu menjawab untuk membuatmu memahami. Andai hal yang sama terjadi padanya, kamu pun tahu kamu takkan bisa hidup tanpa kehadirannya.

Karena itulah, kamu tidak memintanya untuk berusaha kuat. Kamu tidak mengatakan apa pun yang kamu tahu tidak ada gunanya.

"I love you, Hwang Yiseong. I love you with all my heart," bisikmu lirih sambil menatap lurus ke matanya. "Hidupku tak pernah terasa lebih bahagia sebelum bertemu denganmu." Kamu tersenyum, matamu mulai tampak sayu kala kantuk mulai membuaimu. "Terima kasih ... sudah mengizinkan aku mencintaimu." Kamu menyandarkan kepalamu di bahunya.

"Terima kasih sudah mencintaiku."

Terima kasih.

Kamu tak lagi bisa mengendalikan kantukmu. Kamu pun terlelap dalam pelukan dia yang terus menangis. Matanya yang lelah tak dibolehkannya terpejam. Tangannya tak henti mengusap rambutmu, membelai pipimu dengan sayang. Hingga berjam-jam kemudian, dia merasakan napasmu semakin lemah. Bibirmu memucat seperti kertas. Kulitmu yang hangat perlahan mendingin.



Lalu, dalam pelukan dia yang paling kamu cintai, 



kamu embuskan napasmu yang terakhir.



⋇⋆✦⋆⋇

FIN



Komentar

Postingan Populer