Tell Me That I'm Alright

 Samsung Medical Center

(a week before HATCH7 begins) - 8PM




Kwon Eunjae's PoV


Rumah sakit itu besar, mewah. Tampak seperti pusat belanja alih-alih tempat orang-orang sakit berobat. Ruang tunggu dipenuhi sofa-sofa tunggal berlapis velvet, yang salah satunya diduduki pemuda Kwon. Tidak seperti biasa, saat itu Jay tampak berantakan. Rambutnya kusut akibat disugar berkali-kali. Paras pucatnya tampak lebih suram. Gestur tubuhnya — membungkuk dengan dua tangan di atas lutut menutupi muka — menunjukkan gundah dan gelisah.

Tidak pernah sekalipun pemuda Kwon menduga, bubarnya 5ive rupa-rupanya bukan akhir dunia. Sama sekali … tidak mendekati. Hari ini, Jay Kwon mengetahui apa artinya akhir dunia — akhir dunianya.

“Tidak ada yang bisa kami lakukan.”

“Kemoterapi hanya akan membuat tubuh Anda makin lemah pada titik ini.”

Kedua tangan perlahan pindah ke kepala, sekali lagi mengacak-acak rambutnya — frustrasi, putus asa. Tanpa menyadari, pemuda Kwon merintih. Pundaknya bergoncang mengiring erang pilu. Demi apa pun juga, ia hampir tidak pernah sakit seumur hidupnya. Kata-kata dokter terasa bagai lelucon. Tidak bisa dicerna otaknya. Seolah diagnosis itu ditujukan untuk orang lain — bukan untuknya. Tiba-tiba saja ia divonis hanya punya waktu satu tahun, malah bisa kurang dari itu. Gila.

“Saran saya, mulai sekarang lakukan apa saja yang Anda inginkan. Selama tubuh Anda masih mampu melakukannya.”

Jay menegakkan punggungnya, membanting diri ke sandaran sofa. Perasaannya campur aduk. Ketika menoleh ke samping, dilihatnya seorang pemuda asing yang tampak sebaya dengannya. Emosi membuatnya mengujar tanya, “Hei ... kalau umurmu sisa setahun ... apa yang mau kamu lakukan?”

Dikiranya dengan itu ia bisa mengambil keputusan.


⋇⋆✦⋆⋇


Hwang Yiseong's PoV


“Halo,” ayah, appa, bàba, abeoji, dad, father figure, suami dari ibuku—, namun yang akhirnya terlontar dari ujung lidah adalah, “Tuan Hwang.”

Tangannya yang memegang ponsel mengerat selagi dia membisikkan kata-kata lanjutan ke sambungan telepon.

“Yea, yea, ini anakmu tersayang kalau kau masih ingat. Dengar. Aku butuh uang.”


.

.

.


Si bangsat itu meminta sepuluh juta won.

Seminggu sebelum acara survival show yang berpotensi besar mengentaskannya dari permasalahan kestagnanan hidup, Hwang Yiseong diancam dan diperas korbannya dari masa lalu.

How’s that for a headline?

Sedari tadi dia ingin mengumpati apapun yang bisa dia maki. Mengutuksumpahi masa lalunya, kalau perlu, karena sungguh Yiseong pikir hal-hal buruk yang pernah dia lakukan dulu sudah tertinggal semuanya di belakang. Dia telah meminta maaf kepada orang-orang yang dulu pernah dia sakiti bahkan sejak sebelum QQ Star resmi merekrutnya sebagai bagian dari agensi.

Namun tetap saja, kasak-kusuk dan desas-desus tentang kabarnya sekarang tampaknya sudah didengar oleh orang-orang itu. Yiseong tahu wajahnya terpampang di beberapa forum online dalam topik prediksi trainee yang akan mengisi acara survival show besar yang akan dimulai sebentar lagi. Dan salah satu dari mereka memanfaatkan momen ini: turuti kemauanku, atau kubuat seluruh Korea Selatan tahu tentang kelakuanmu beberapa tahun lalu? K-netizens akan memanggangmu dengan komentar-komentar mereka yang sepanas api neraka. Bayangkan saja dulu, apa itu yang kau mau?

“Bangsat,” dari balik masker yang menutupi mulut dan hidungnya, Hwang Yiseong memaki, lemah.

Rumah sakit adalah tempat yang sangat ganjil untuk dipakai janjian bertemu dengan cecunguk yang memutuskan untuk mengobrak-abrik ketenangan hidupnya dengan ancaman, tapi hari ini langkahnya menjejak Samsung Medical Center dengan berat hati. Sengaja dia tidak memberitahu agensinya tentang ini, tak begitu yakin dia trainee sepertinya akan diberi perlindungan atau bantuan hukum — because he was gonna sue that loser’s ass to the hell and back, pemerasan adalah tindakan kriminal, no?

Frustrasi pemuda itu kini, maka dia mengenyakkan diri ke sofa pertama yang ditemuinya di bangsal ruang tunggu; napasnya terhela berat. Selagi ponselnya belum lagi dihubungi oleh begundal kurang ajar itu, Yiseong membiarkan dirinya menanti-nanti sendiri, mungkin sampai kepalanya berasap dan matanya keluar api.

Kecuali, dia tidak sendiri. Tak jauh darinya menempatkan bokong dengan gelisah, seseorang baru saja mengacak-acak rambutnya sendiri diikuti dengan erangan pedih. Alisnya melesat naik dengan penasaran, namun kemudian turun lagi setelah dia menilai, beginilah pemandangan lumrah di rumah sakit. Biarkan orang itu menghadapi masalahnya sendiri, dan biarlah dia bergumul dengan permasalahannya sendiri pula.

“Hei …,”

Awalnya, Yiseong pura-pura tidak mendengar. Alih-alih menolehkan kepala pada orang asing frustrasi yang baru saja bicara, pemuda Hwang itu memilih memfokuskan pandangannya pada ubin linoleum yang pekat beraroma hutan cemara. Mungkin setengah jam yang lalu, janitor bangsal baru saja mengepelnya dengan cairan pel berdisinfektan — namun lalu kata-kata itu berlanjut, dan kini tak ada lagi keraguan bahwa dialah yang sedang diajak bicara orang asing.

“—kalau umurmu sisa setahun … apa yang mau kamu lakukan?”

Yiseong menoleh, mengalamatkan kerling pada wajah kusut yang… familiar? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Dia tak begitu yakin, namun kefamiliaran ini membuat duduknya gelisah, terlebih saat dia sedang tak ingin dikenali. Maka tangannya memperbaiki letak topi di atas kepala dan masker kain berwarna hitam yang menutupi separuh wajah, memastikan sebagian besar mukanya tetap tersembunyi. Yang akan didapati orang asing itu hanyalah kedua bola mata yang menatap balik, dengan satu alis naik.

Pertanyaan macam apa itu?

“Pertanyaan macam apa itu?” pikirannya digamblangkan dalam kata-kata. Yiseong menukas dalam nada sedatar barisan ubin-ubin rapat dan monoton di bawah sol sepatunya, menegaskan bahwa jawaban itu terlontar hanya agar orang asing itu tutup mulut dan meninggalkannya.

Dia tidak bisa memungkiri ada sesuatu yang lain dari orang itu yang membuatnya, pada akhirnya, menjawab pertanyaan itu, meski dengan sekenanya.

“Aku akan cari jin yang bisa mengabulkan permohonan, lalu meminta agar aku bisa hidup selamanya,” pemuda Hwang itu menyeringai, meski orang asing itu tidak akan bisa melihatnya.

Ponselnya masih belum juga berbunyi, maka Yiseong meluruskan punggung dan meneruskan menatap bosan pada langit-langit ruangan.

“Aku juga punya pertanyaan. Kalau umurmu sisa seminggu,” mulutnya telah kembali bergerak. “Apa yang akan kau lakukan?”


⋇⋆✦⋆⋇

Kwon Eunjae's PoV


"Pertanyaan macam apa itu?"

Yeah, right. Pertanyaan macam apa yang kamu ajukan itu, Jay-ssi?

Sesungguhnya, ia tidak mengharap jawab dari pemuda di sebelahnya itu. Pertanyaannya keluar hanya semata-mata karena frustrasi. Butuh pelampiasan, atau apa pun itu. Ketika ia hendak mengatakan sesuatu seperti permintaan maaf, lawan bicaranya membuatnya terdiam.

“Aku akan cari jin yang bisa mengabulkan permohonan, lalu meminta agar aku bisa hidup selamanya.”

Kwon sulung mendengus mendengar jawaban tersebut. Mencari jin. Rasanya jawaban itu sama saja berarti tidak ada harapan. “Di mana bisa mencari jin?” balasnya dengan agak gusar, tapi tak urung pemuda Kwon itu membayangkan jika jin sungguhan ada. Ia tidak akan meminta hidup selamanya, ia hanya minta kehidupan normal yang sewajarnya. Kehidupan di mana Kwon Eunjae bisa melalui hari-harinya seperti biasa. Minimal, ia ingin penyakit sialan ini dicabut dari tubuhnya.

Jay menutup mata — coba mengosongkan pikirannya dari kekalutan. Otaknya hanya mengulang satu kata berulang-ulang. Mati. Mati. Ia akan mati tanpa berhasil meraih apa pun yang direncanakannya. Mati sebagai orang yang gagal. Dengan tubuh ringkih begini, apa mampu dirinya bersaing di Hatch7 nanti? Sibal!

“Aku juga punya pertanyaan. Kalau umurmu sisa seminggu,”

Pertanyaan terlontar dari lawan bicara yang ia pikir sudah bosan dengannya. Jay membuka mata, melirik pada yang bersangkutan.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Apa-apaan?

Satu tahun saja terasa kurang, apalagi seminggu?

Jay mendecakkan lidah. “Seminggu?” ulangnya. Sepasang netranya mau tidak mau memperhatikan lawan bicaranya. Mungkinkah orang itu hanya punya sisa waktu seminggu untuk hidup? Demi dewa-dewa. Jay merasa bersalah tiba-tiba. 

“Kalau hanya seminggu … aku akan menghabiskannya dengan keluargaku ....”

Ia menghela napas.

“... dengan orang-orang yang penting untukku.”

Seminggu ... bahkan Hatch7 saja tidak akan bisa diikutinya kalau begitu.

“Kamu sendiri? Apa yang akan kamu lakukan dalam seminggu itu?"


⋇⋆✦⋆⋇


Hwang Yiseong's PoV


Sederhananya, Yiseong hanya membalas pertanyaan absurd itu dengan jawaban yang absurd pula. Maka dia tidak heran saat kata-katanya yang terakhir ditimpali lebih dulu dengan dengusan.

“Di mana bisa mencari jin?” si orang asing menukas dengan gusar, dan Yiseong hanya mengedikkan bahu seolah tak peduli, meskipun dalam hatinya dia sendiri tengah mendengus balik.

“Di kartun anak-anak,” dia menatap lurus tanpa minat, lalu menunduk lagi ke arah sepatunya seolah benda itu jauh lebih menarik. “Di cerita fiksi. Di…, alam imajinasimu.”

Jin yang dia sebut-sebut sama noneksistennya dengan masa depannya jika permasalahan pemerasan ini tidak dia tangani dengan baik. Si stranger harusnya tak usah ambil pusing dengan jawabannya yang ngawur, namun sosok di depannya itu lalu terdiam seolah-olah sedang betul-betul memikirkan jawaban yang diterimanya, sampai matanya dipejamkan segala.

“Aku hanya bicara sembarangan, lupakan saja. Aku tidak berminat mencari jin dan juga tidak berminat untuk hidup selamanya.”

Dengan ayah otoriter tak punya hati dan ibu yang menganggap eksistensinya tidak ada? Tidak, terima kasih.

Tampaknya bukan hanya Hwang Yiseong yang pikirannya sedang diganduli beban hidup di sini. Ekspresi kalut di wajah si stranger sudah cukup mengindikasikan bahwa keduanya sedang menyimpan isi pikiran yang ruwet, meski Yiseong yakin si orang asing pasti sedang tidak diperas sepuluh juta won oleh seseorang dari masa lalu yang harusnya sudah enyah dari hidupnya. Ponselnya belum juga berdering omong-omong. Percakapan terakhir di Katalk-nya hanya menunjukkan pesan terakhir yang menyuruh Yiseong menunggu di Samsung Medical Center sekitar pukul setengah delapan.

Sudah lewat tiga puluh menit dari kesepakatan. Si bangsat itu selain tak tahu diri juga gemar membuang-buang waktu.

Pemuda Hwang itu menghela napas panjang. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan saat ini, maka mau tidak mau kini dia mendengarkan lanjutan kata-kata lawan bicaranya. Laki-laki itu bilang dia akan menghabiskan waktunya dengan keluarga dan orang-orang yang menurutnya penting. Sebuah jawaban yang membuat Yiseong mendengus. Ha. Lihat bagaimana posisi mereka kini berbalik.

“Lebih baik aku makan sepatuku daripada harus menghabiskan minggu terakhirku di dunia dengan keluargaku,” Yiseong berkomentar tanpa banyak pikir, sebelum kembali memperbaiki posisi masker dan topinya. “Kalau aku? Aku akan mengambil uang ayahku, lalu pergi berkelana keliling dunia.”

Dua orang. Dua jawaban. Satu ingin bersama keluarga, yang satu lebih ingin minggat temporer dari rumah demi melihat dunia. Mereka seperti berasal dari dua dunia yang betul-betul berbeda.

Ponsel di tangannya kini dia putar-putar, bosan.

“Omong-omong, wajahmu familiar,” Yiseong melirik muka si orang asing dengan terang-terangan. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Semoga dia bukan orang lain dari masa lalunya — kalau demikian, Hwang Yiseong sudah siap angkat kaki saja dari sini daripada harus menghadapi gelombang sakit kepala yang kedua.


⋇⋆✦⋆⋇


Kwon Eunjae's PoV


Jawaban yang pemuda Kwon dapat mengingatkannya jika manusia memiliki sifat, kehidupan, dan takdir yang berbeda-beda. Apabila Kwon Eunjae memiliki keluarga yang cukup harmonis, dan orangtua yang memberinya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, kelihatannya lawan bicara Jay saat ini justru kebalikannya. Agak terkejut juga mendengar nada tidak suka begitu rupa ditujukan kepada ayah sendiri, tapi sekali lagi, kehidupan orang itu bukan kehidupannya. Jay tidak punya hak untuk menghakimi apalagi berkomentar.

“Keliling dunia kedengarannya menyenangkan juga,” jawabnya menimpali, lalu menambahkan apa yang tiba-tiba tebersit dalam benaknya. “Aku lahir dan besar di London. Keluargaku masih tinggal di sana. Bisa dibilang aku di sini dengan mengambil uang ayahku untuk pergi ke negara lain.” Niatnya ingin berkelakar, tetapi nada lemas yang terujar dari mulutnya sama sekali tidak terdengar mengundang tawa. Jay malah semakin terkesan menyedihkan jadinya. Haa — mungkin akan jauh lebih baik jika ia diam saja.


“Omong-omong, wajahmu familiar.”


Ujaran itu membuatnya refleks menoleh pada si penanya, lupa jika kedua matanya bengkak dan memerah, serta bibirnya kering dan pucat.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Jay tertawa kecil. “Ah … itu ....” Ia mendengus pelan. “Belum, kita belum pernah bertemu.” Jay mempertimbangkan sejenak apakah perlu ia berterus terang atau pergi saja tanpa menjawab apa-apa? Namun, tubuhnya masih lemas sehingga pilihan kedua terpaksa harus ia singkirkan. “Mungkin ... kamu pernah melihatku di televisi.” Ia menelan ludah, menempelkan tangan menutupi bibirnya — gugup. Bisa saja orang ini melihatnya dalam MV debut 5ive, atau di dalam web drama yang dibintanginya.


⋇⋆✦⋆⋇


Hwang Yiseong's PoV


Perbedaan kontras keduanya dalam menyikapi hubungan dengan keluarga telah dihamparkan, namun kini pernyataan terakhir si orang asing membuat tatapan Yiseong pada wajah itu bertahan lebih lama.

Lahir dan besar di London, huh?

“That makes the two of us,” Yiseong menimpali, sengaja dalam bahasa Inggris, kini. Entah mengapa persamaan kecil yang tiba-tiba muncul setelah jurang menganga yang memisahkan isi pikir mereka tentang minggu terakhir di dunia membuatnya merasa sedikit ganjil. “Aku juga tidak lahir di sini. Kau London, aku Shanghai.”

Sesaat dia bertanya-tanya sendiri mengapa dia menyeletukkan fakta ini untuk dicerna oleh seseorang tak dikenal yang baru diajaknya bicara sekitar lima menit. Namun sedetik kemudian pertanyaan monolog itu dia jawab sendiri di dalam pikiran. Justru karena orang asing adalah orang asing. Mereka bisa meninggalkan tempat ini untuk menyongsong urusan masing-masing, dan — berani taruhan — masing-masing dari mereka akan lupa soal stranger yang lahir di London atau si Shanghai yang mereka temui di ruang tunggu Samsung Medical Center.

Yea, yea, he’s also living his dream, karena katanya dia berada di sini setelah mengambil uang ayahnya untuk pergi ke negara lain. Si stranger aneh nan beruntung ini mungkin akan bercokol dalam kepalanya selama beberapa saat sebelum ditimpa oleh keresahan lain yang sedang dihadapinya. Nama baiknya sedang berada di ujung tanduk dan dia akan jadi sepuluh juta won lebih miskin dalam beberapa saat. Anggap saja ini adalah selingan.

Hanya saja, satu hal yang tidak Hwang Yiseong pertimbangkan adalah si orang asing akan berhasil membuat dirinya tak terlupakan semudah itu lewat kata-kata yang dia ucapkan sesudahnya.

Pertanyaannya soal wajah yang familiar membuat wajah itu menoleh sepenuhnya padanya. Mereka kini saling menatap selama beberapa saat, dan saat itu juga otaknya mencocokkan wajah itu dengan ingatan dari masa lalu.

Ha. Right.

“Mungkin … kamu pernah melihatku di televisi.”

That’s why. That is exactly why.

“Jadi aku sedang bicara dengan seorang selebriti?” He chuckles, very softly. This takes quite a turn. “Tunggu. Sepertinya aku ingat siapa kau.”

Ponsel yang tadi dimain-mainkan di tangan sekarang diaktifkan kembali layarnya. Jari jemarinya menari, membuka portal Naver Search dan mengetikkan keywords ke kolom pencarian. Tidak sampai sepuluh detik sampai senyum timpangnya merekah puas dari balik masker. Ponsel itu diangkat sejajar matanya, mencocokkan foto yang terpampang di laman profil halaman Naver yang sedang dia buka dengan tampang sosok di hadapannya.

Foto di layar ponselnya menunjukkan wajah yang terlihat segar dan bahagia, sedikit berbeda dengan sosok dengan mata membengkak dan bibir yang kering dan pucat di hadapannya ini. Dia sendirian dan terlihat kacau sejak pertama kali mereka bertemu. Entah apa yang baru saja terjadi pada si orang asing yang ternyata tidak asing-asing amat ini. Tapi dari pertukaran dialog mereka tentang waktu terbatas dan keinginan terakhir, Yiseong punya tebakan.

“Apa yang sedang seorang selebriti lakukan di tempat ini —,” Yiseong menurunkan ponselnya. “Jay-ssi?"


⋇⋆✦⋆⋇


Kwon Eunjae's PoV


Orang ini, yang sedang berbicara dengannya, yang ia sapa secara acak untuk melampiaskan uneg-uneg kusut dalam kepalanya, ternyata tahu siapa jati dirinya. Kwon Eunjae menelan ludah, terdorong untuk bersikap lebih defensif kepada lawan bicaranya. Jay hanya terdiam, seolah kaku, ketika ponsel si orang asing diangkat untuk membandingkan foto dirinya pada laman Naver dengan dirinya yang asli. Benaknya bertanya-tanya, mengira-ngira, apakah orang asing di hadapannya itu aman atau tidak.


“Apa yang sedang seorang selebriti lakukan di tempat ini—,” Orang asing itu menurunkan ponselnya. “Jay-ssi?”


Jay memejamkan mata, seakan dengan begitu si orang asing akan lenyap dari hadapan. Namun, hidup tidak bekerja dengan cara demikian. Tidak ada masalah yang bisa dilewatkan hanya dengan mengerjapkan mata.

“Aku — maksudku, ada kerabat yang sakit,” ujarnya berbohong — berharap wajah pucatnya tidak membocorkan ketidakjujurannya. “Dokter menjatuhkan vonis hukuman mati.” Ia tertawa kecil, merasa kelakar kecilnya lucu setengah mati. “Satu tahun. Tidak ada obat. Tidak ada terapi yang bisa mereka lakukan untuk menyembuhkannya.” Kwon Eunjae mendengus. Seketika emosi mendera. “Padahal dokter seharusnya bisa menyembuhkan apa saja. Kan?”

Orang asing itu hanya punya waktu satu minggu, mungkin saja yang dibicarakannya adalah orang lain karena orang itu tidak tampak sakit. Paling tidak, seharusnya orang asing itu bisa memahami keluhannya barusan.

“Aku harus pergi,” katanya, mulai merasa tidak nyaman. Ia berusaha berdiri sambil berpegangan pada lengan sofa. “Terima kasih sudah menemaniku mengobrol. Tolong lupakan semua yang kukatakan.” — jangan menjualnya ke media. Mengabaikan lemas, Kwon Eunjae berlalu begitu saja meninggalkan orang asing itu kembali pada urusannya sendiri.



Hanya saja pemuda tidak tahu, sebuah pertemuan acak terkadang merupakan awal dari pertemuan lainnya.


⋇⋆✦⋆⋇

FIN

Komentar

Postingan Populer